Selasa, 24 Januari 2012

Sesuatu Yang Telah Hilang

     Ada saatnya mendapatkan dan saatnya kehilangan. Aku baru sadar ternyata kehilangan sesuatu sangatlah menyakitkan, apalagi kehilangan orang yang kita cintai. Aku hanya bisa berpasrah ketika ku membaca undangan pernikahan darinya. Campur aduk pikiranku saat itu, akanku apakan undangan ini?? Haruskah aku datang di pernikahan itu????? Saat itu rasanya aku mau berteriak sekeras mungkin, tapi apakah dengan teriakanku dia bisa bersamaku lagi??? Tak mungkin karenaku tau hatinya bukan untukku lagi. Harapanku untuk bersamanya telah hilang. Aku hanya bisa menangis dan menyesali kesalahanku di masa lalu.”Ta kamu gak seharusnya seperti ini, kamu harus melanjutkan hidupmu, masih banyak hal-hal yang indah menunggumu ta, kamu gak seharusnya sedih seperti ini ta”, ditha memberikan semangat untukku, agar aku tidak terlalu larut dalam kesedihanku.”tapi apa yang harusku lakukan dith??? Aku gak sanggup dith”
     Hari pernikahannya pun sudah didepan mata, aku berniat untuk menghadirinya tetapi aku belum bisa menerima semua ini. Tapi aku harus merelakannya dengan pilihan hatinya sendiri, dia bukan jodohku,dan sekarang aku sadar, aku akan datang sebagai teman dan turut mendoakan agar dia dan keluarga barunya bahagia.”thita kamu dah siap lum??? Buruan, ntar kita telat lho”. Aku pun langsung bergegas keluar kamar ketikaku mendengar suara ditha. “ayo dith, aku dah siap kok”. Aku dan ditha langsung bergegas pergi ke pesta pernikahan Defly. Acaranya telah selesai dan saatnya aku dan ditha berjabatan tangan untuk menyalami defly,”Selamat yah def, ku doakan kamu bahagia dengan keluarga barumu sekarang”.
     Waktu terus berjalan dan aku telah menemukan seseorang yang berhasil melumpuhkan hatiku. Aku bahagia sekarang, akhirnya ada orang yang menyayangiku. Kami menjalani hari-hari dengan senyuman, jalan bersama, menghabiskan waktu berdua. Dia sangat perhatian padaku, dia sangat peduli padaku, apa yang ku inginkan selalu diturutinya. “Fi, aku berterima kasih banget sama kamu, selama ini kamu telah berhasil mengeluarkanku dari duka yang selama ini membelengguhku, kamu mampu mengembalikan senyumku, aku emang gak salah pilih, skali lagi makasih yea fi” “ia ta, aku juga mau berterima kasih sama kamu, kamu mau membuka hatimu buatku, kamu memang pantas untuk tersenyum dan merasakan bahagia”.
     Setahun sudah ku jalani hubungan dengan Rafi. Suka duka kami lewati bersama, senyum keidahan dia hadirkan untukku, aku pun bahagia menikmati hari dengannya. Hingga suatu hari Rafi memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di luar kota. Kami masih menjalani hubungan jarak jauh, hanya bisa berkomunikasi melalui telpon dan berbagai fiture internet. Hingga suatu saat ketika ku menelpon Rafi “hallo… ini syapa yea kok bisa tau nomornya Rafi???” seorang perempuan yang mengankat telponku aku mengajukan pertanyaan yang sama kepada cewe itu,”loh kamu yang siapa, kok bisa-bisanya kamu mengangkat telpon yang bukan punya kamu??? Rafi kemana??? Aku mau ngomong sama dia, mana Rafi???” Dengan nada tinggi cewe itu menjawab pertanyaanku,”loh kamu gak tahu yea, Rafi itu pacarku, makanya aku berani dan punya hak buat jawab telponnya, kamu yang siapa????” “pacar” setelah mengatakan satu kata itu aku langsung terdiam dan mematikan telponnya.
     Lagi-lagi aku tersakiti oleh cinta. Tuhan apakah aku memang tidak layak merasakan anugrah-Mu ini??? Apakah aku memang di takdirkan untuk seperti ini???? Disakiti dan akhirnya menyendiri??? Mengapa aku harus terluka lagi??? Belum puaskah Engkau menghukumku???? Apakah salahku selama ini??? Aku sudah mencintai orang-orang disekelilingku, aku sudah berusaha mencintai dengan sepenuh hati, kenapa aku harus merasakan penderitaan yang sama?? Kehilangan orang yangku cintai. Tak sanggupku jalani hidup seperti ini. Aku pun memutuskan untuk menutup rapat-rapat hatiku lagi, aku tak mau tertipu cinta palsu lelaki lagi. Sebaiknya aku sendiri, aku butuh ketenangan, aku butuh waktu yang lama untuk menenangkan diri aku memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang aku pun tidak mengenal orang-orang di sekelilingku. Aku menikmati hidupku disini, aku menemukan kebahagiaan lain bersama keluarga yang menampungku. Aku mengajarkan anak-anak di desa ini yang tidak mampu bersekolah, dari mereka, aku mendapatkan senyumku kembali, tapi kali ini senyuman ketulusan yang aku rasakan.
     Anak-anak di desa ini membuatku mengerti arti dicintai dengan ketulusan. Karena selama ini cinta yangku dapatkan adalah cinta yang semu,cinta yang penuh dengan kepura-puraan. Senyumanku telahku dapatkan. Aku memutuskan untuk kembali kerumahku dan bertemu dengan orang-orang yang selama ini ku tinggalkan. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mudah mempercayai kata-kata gombal yang keluar dari mulut seorang lelaki. Aku lebih berhati-hati dengan keputusanku, tetap menerima cowok, tapi tetap berhati-hati agar tidak mengulangi kesalahanku di masa lalu.
     Sekian lama ku jalani hidupku dengan kesendirian, sekarang saatnya aku mendapatkan orang yang benar-benar mencintaiku dengan tulus. Aku terus berdoa kepada Tuhan. Sampi suatu hari aku menemukan orang yang dengan tulus ingin menjalin hubungan denganku. Aku bertemu dengan cowok yang bernama Dithya. Dia anak baru di kampusku, tapi aku telah mengenalnay saat aku berada di desanya. “dithya kamu kok bisa ada di sini???” sapaku padanya. “Aku pindah kulia di sini biar bisa terus menjaga kamu, aku kan pernah janji sama kamu, kalau aku akan menjaga senyummu agar tidak di ambil orang lagi, sayang loh senyum secantik itu di ambil orang yang hanya pengen senang-senang saja” aku hanya bisa tersenyum malu mendengarkan kata-kata Dithya. Dithya akhirnya menyatakan cinta yang sudah lama ia pendam terhadapku. Aku dengan senang hati menerimanya karena aku tahu dan telah mengenal dia cukup lama. Dia terus-menerus membuatku tertawa dan tak mengijinkanku menangis. Terima kasih Dithya, sekali lagi ku ucapkan terima kasih untuk kasih dan sayang yang begitu tulus kau berikan kepadaku. Kini ku bisa hidup dengan penuh senyuman di wajahku. Dan aku yakin inilah orang yang benar-benar menyayangiku yang di berikan Tuhan padaku.






THE AND


Karya Livi Chiechy
Surabaya, 24 January 2012
Livilee21@yahoo.com {fb}
mellivikatiandagho@yahoo.co.id {twitter}
livilee21@yahoo.com & livi.love21@yahoo.com {email}

Tidak ada komentar:

Posting Komentar