Jumat, 24 Februari 2012

Mencintai Dengan Tulus

     Kejadian waktu itu membuatku sadar akan satu hal, bahwa tak ada yang abadi di dunia ini. Aku harus merelakan dia pergi bersama orang lain, walau hati ini tek mampu menerima semuanya, tapi tak ada alasan lagi untuk tetap bersamanya. Kesedihan ini sungguh menyiksaku, rasanya aku tak mau hidup lagi, inginku tinggalkan dunia ini, karena terlalu sakit luka yang kau goreskan dalam hatiku. Apa salahku sehingga dia pergi meninggalkanku?? Apa kurangnya aku untuk bersama dia??? Saat itu aku merasa begitu sangat sakit. Dengan apa aku bisa melupakan hari-hari bersamanya?? Tuhan mengapa Engkau begitu tega terhadapku?? Mengapa Engkau tidak biarkan dia bersamaku dan membuatku terluka seperti ini??
Never mind I’ll find someone like u. Berbagai caraku lakukan untuk melupakanmu, pergi ke luar kota, pacaran dengan orang lain, tapi aku tetap tidak bisa melupakanmu. Kau begitu indah dan terlalu indah untukku lupakan.
     Tia kamu harus bisa melupakannya, ingat dia lebih memilih Edis daripada kamu, kamu gak boleh terus-menerus memikirkan dia seperti ini, dia gak pantas buat kamu, kamu harus bangun dan tinggalkan masalalumu. Mungkin dengan membuang memori bersamanya aku bisa melupakan dia dan menjalani hidupku lagi. Tapi aku bisa membuang semua ini hanya sementara, karena sekian lama dia menghilan dan tidak ada kontak dengan ku sama sekali, tiba-tiba dia kembali lagi dengan menceritakan masalahnya dengan pacarnya. Tak sampai hati aku mengacukan dia, karena aku masih begitu mencintainya. Dia menceritakan masalahnya dengan pacarnya. Karena aku tidak ingin dia bersedih dan merasakan penderitaan sama dengan yang ku rasakan, aku menyemangati dia dan tidak menyuruh dia untuk memutuskan hubungan mereka, tapi justru aku menyuruhnya untuk mempertahankan hubungan mereka.
Rasanya sakit ketika melihat dia sakit hati, walaupun dia hanya mengingatku saat dia bersedih aku masih merasa bahagia karena setidaknya dia masih memingatku. Aku kembali dilupakannya, tapi aku tak pernah membencinya. Aku berjanji kepada diriku sendiri, kalau aku akan selalu ada saat dia membutuhkanku. Aku akan berusaha membuat dia tersenyum dan tidak akan membiarkan dia menangis. Karena saat dia menjatuhkan airmatanya, airmataku pun dengan sendirinya akan berlinang membasahi pipiku. Aku akan selalu mendampinginya walaupun dia tidak menyadari hal itu. Sepulangnya aku dari luar kota, aku tak lupa membelikan dia ole-ole. Aku masih terus mengingatnya walaupun aku sudah punya sesearang yang menyayangiku. Tia kenapa she kamu gak bisa melupakannya??? Jelas-jelas dia sudah menyakitimu, dia sudah menyianyiakanmu, tapi kenapa kamu gak bisa melupakanmua, malah membiarkan dia mengganggumu dengan bercerita tentang permasalahannya dengan pacarnya. Di dia begitu berharga buatku, dia yang sudah mengajarkanku cara mencinta dengan ketulusan, memberi tanpa harus menerima, dia telah mengubah hidupku yang dulunya egois, tak mau memperdulikan sesama, dia mampu membuatku berubah. Hidupku berubah semenjak mengenalnya, aku bisa bahagia mencintainya walaupun aku tak bisa memilikinya. Tapikan sekarang kamu sudah punya Rama, dia juga sayang sama kamu, dia juga perhatian sama kamu, kamu mau menyakitinya?? Apa kamu tega sama Rama?? Bukannya kamu pernah bilang kalau kamu juga mencintainya, kenapa kamu berbuat seperti ini sama Rama?? Aku memang sayang sama Rama, tapi aku gak bisa lupain Dio. Jadi sekarang aku harus gimana Di?? Aku sayang sama Rama,. Kalau kamu memang sayang sama Rama, lupain Dio, dia hanya bisa mengacaukan hidupmu, jadi untuk apa kamu terus-menerus memikirkan dia. Dia gak pantas kamu pikirkan. Ada Rama yang akan membuat kamu lebih bahagia, ada Rama yang akan selalu mendampingi kamu. Kamu gak maukan kecewain Rama, kamu taukan kecewa itu seperti apa??? Bagaimana rasanya?? Kalau Rama tau kamu masih punya perasaan sama Dio, dia pasti kecewa berat sama kamu.
     Benar apa yang di katakana Diana, Rama pasti akan sangat kecewa dan terluka kalau dia tau bahwa aku tak bisa melupakan Dio, tapi aku harus bagaimana?? Aku bingung dengan perasaanku?? Aku terlalu mencintai Dio. Pasti Rama akan terluka jika dia mengetahui semua ini, dari pada dia terluka nanti, lebih baik aku beritau dia tentang isi hatiku selama ini, bahwa aku masih menyimpan rasa terhadap Dio. Rama kamu ada waktu gak?? Bisa gak kita ketemu sekarang?? Ada hal yang penting yang mau aku katakana sama kamu, ini tentang kelangsungan hubungan kita Ram. Kenapa Tia kayaknya koq serius banget?? Ada apa sih?? Aku jadi penasaran. Panjang lebar aku utarakan semua isi hatiku kepada Rama, kalau kamu ingin meninggalkanku sekarang aku rela Rama, kalau kau pun kecewa, aku minta maaf, tapi aku tidak bisa melupakannya, aku gak bisa melupakannya, aku begitu menyayanginya. Tia aku sangat mencintaimu apa pun akan aku lakukan asalkan kamu bahagia. Aku juga akan memperhatikanmu walaupun kamu sama sekali tidak pernah mencintaiku, tapi aku senang kamu bisa berkata yang sebenarnya. Aku salut sama cintamu terhadap Dio. Aku harap aku bisa mencintai seseorang sama seperti kamu mencintai Dio. Aku akan selalu mendoakanmu agar kamu bisa bahagia dan mendapatkan wanita yang nantinya juga akan mencintaimu dengan tulus. Rasanya legah hati ini bisa melepaskan Rama, aku merasa bersalah kepada Rama, tapi aku harus meninggalkannya. Aku tak bisa menyiksanya dengan memendam rasaku terhadap Dio.
     Aku menikmati kesendirianku dengan terus-menerus memikirkan Dio. Bayang-bayangnya selalu terlintas dalam benakku. Aku mencoba memberanikan diri untuk mengatakan bahwa aku masih terlalu sayang kepadanya, aku tak bisa sedetikpun melupakan dia. Tapi dia hanya berkata bahwa pasti ada orang yang akan menyayangiku dan membuatku bahagia. Dia juga mengatakan padaku bahwa dia akan segerah melamar dan menikahi Edis secepatnya. Hancur lebur hatiku mendengarkannya, tak kuasa aku menahan airmataku, aku kembali menangis untuk dia. Sudah tak ada harapan lagi aku bisa bersamanya. Aku hanya bisa mengucapkan selamat dan semoga kamu bahagia dengan pilihanmu. Tapi sebulan kemudian dia bercerita bahwa dia putus dengan Edis. Aku bertanya kenapa?? Apa masalah kalian?? Apa gak bisa dibicarakan lagi, mungkin ada kesalahpahaman diantara kalian, aku tidak menggunakan kesempatan ini untuk kembali bersamanya, karena aku tau hatinya tidak lagi untukku. Yah, tak lama kemudian aku mendengar bahwa Dio dan Edis sudah kembali menjalin hubungan, aku tersenyum mendengar hal itu, tapi dalam hati aku menangis, aku kecewa, aku terluka. Tapi ini sudah biasa aku alami, jadi aku sudah mulai bisa menerima dengan berat hari.
     Aku kembali menjalankan hidupku setelah aku benar-benar menyadari bahwa dia bukan milikku lagi. Kini aku bisa menikmati hidupku, dan mencari orang yang bisa menerimaku apa adanya. Aku percaya bahwa memang benar apa yang dikatakan Dio terhadapku, aku pasti bisa mendapatkan orang yang lebih baik darinya. Aku akan bahagia bila membiarkan Dio bahagia dan tidak mencampuri urusan dia lagi. Tuhan tolong tunjukan jalan untukku, aku ingin hidup bahagia walau tak bersamanya. Tapi ternyata aku memang tak bisa melupakannya, berbagai macam cara aku lakukan agar aku bisa melupakannya. Tapi lagi-lagi aku tak berdaya, aku tak bisa melawan rasaku sendiri, aku tak mampu menahan semua ini sendirian.
     Lagi-lagi aku harus keluar kota untuk mencoba dan berusaha melupakan dia. Karena aku tau aku tak bisa mendapatkan cintanya kembali, tapi Tuhan berkata lain, Dia mempertemukan aku dengan Dio lagi. Di jejaring social Facebook dan fasilitas BBM aku kembali akrab dengannya. Rasanya sangat senang melihat dia mengomentari status FBqu. Bahagia rasa hatiku saat itu, walaupun dia mengingatku kalah dia sakit dan kecewa, tapi aku tak pernah memikirkan hal itu. Aku meresponnya agar dia tahu kalau aku tak pernah bisa melupakannya. Aku merasa dekat lagi dengannya. Dan tiba-tiba aku mendapatkan pesan singkat (sms) yang sangat-sangat membuatku terkejut. Aku tak bisa berkata apa-apa, aku terdiam membaca sms itu, apa yang harus aku balas, kata-kata yang bagaimana yang tepat untuk membalas sms itu??? Haruskah aku senang atau mengucukan sms itu, aku jadi bingung sendiri. Pikirku apa dia sungguh-sunggu dengan sms-nya barusan atau karena sekarang dia lagi galau dan mungkin aku hanya dijadikan tempat pelampiasannya saja??? Aku coba buktikan sajalah apakah benar yang dia katakana, apakah dia memang sungguh-sungguh atau hanya ingin menjadikan tempat pelampiasannya saja. Sejak saat itu aku menerimanya lagi sebagai pacarku. Dan sampai sekarang kami berdua menikmati hubungan kami walau pun jarak memisahkan kita, tapi dia berjanji kepadaku untuk menungguku kembali ke kota itu. Walaupun sekarang kita pacaran hanya melalui telpon, sms, dan BBM-an, tapi aku merasa senang bisa kembali bersamanya.
     Tuhan aku mohon kepada-Mu, aku mau dia menjadi yang terakhir dalam hidupku, kalau Engkau memang berkenan aku tak ingin lagi kehilangan dia, karenah sudah terlalu sering aku kehilangan dia dan mudah-mudahan dia juga punya pikiran yang sama dengan yang ku pikirkan dan punya permintaan yang sama kepada Tuhan. Kau jaga selalu hatimu dan tunggu aku kembali, karena aku hanya meninggalkanmu hanya sementara dan aku pastikan aku akan kembali untukmu.

-THE AND-

Surabaya, 24 February 2012
Karya Livi Chiechy

Rabu, 25 Januari 2012

Kisah Cinta Ku


     Aku mulai berpacaran semenjakku berusia 17 tahun atau sekitar 4 tahun yang lalu. Ternyata setiap cowok itu punya karakteristik yang tidak sama atau berbedah. Ero cowok yang pertama menjadi pacarku saat itu, tapi aku tidak pernah menaru hati padanya, aku menjalin hubungan dengannya hanya mencari sebuah status saja sehingga percalanan cinta kami tidak berlangsung lama. Aku kembali memutuskan untuk sendiri. Liburan sekolah pun tibah, aku di ajak saudaraku untuk berlibur di rumahnya. Disana aku bertemu dengan seorang cowok yang bernama Rojer, aku dan rojer jadi akrab dan sering jalan bersama. Karena kita sudah saling mengenal, rojer memintaku untuk jadi pacarnya. Hampir sama dengan Ero, hubungan kita tidak berlangsung lama, “Jer kayaknya aku gak tahan sama hubungan ini deh, soalnya jarak tempat tinggal kita jauh, sorry yea jer, kita lebih baik putus yah, maaf kalo selama ini aku ada salah sama kamu” aku memutuskan Rojer dengan alas an jarak rumah kita yang terlalu jauh.
     Aku yang saat itu masih duduk di bangku SMA mempunyai teman akrab yang bernama Prey. Kami berdua telah berteman sejak satu kelas di kelas 2 SMA. Satu tempat duduk berdua, kekantin berdua, belajar pun berdua, kami sangat akrab waktu itu. Suatu hari aku di undang Prey untuk ke pesta dirumahnya, dari situ aku dikenalkan dengan kakak laki-lakinya yang bernama sama dengan mantanku Rojer. Disitu kami saling bertukar nomor HP. Selang satu bulan, rojer menembakku dan memintaku menjadi pacarnya dan aku tak mampu menolaknya. Sejak awal aku pacaran, aku tidak sekali pun berniat untuk serius, sehingga ku tak mampu menjalani hubungan yang lama. “Jer aku merasa udah gak cocok sama kamu jadi lebih baik kita putus aja, sorry yea kalau selama ini aku ada salah sama kamu, tapi ini yang terbaik buat kita berdua”, lagi-lagi aku mengambil keputusan sendiri tanpa memikirkan perasaan mereka. Hal yang sama terjadi kepada beberapa cowok yang mengatakan cintanya padaku.
     Hingga suatu hari aku dikenalkan dengan cowok yang bernama Fian. Aku pun menjalin hubungan dengannya selamah kurang lebih 3 bulan, dengan alas an yang itu-itu lagi, aku memutuskan Fian, “Fian maaf yea aku merasa kamu gak serius sama aku, jadi mendingan kita putus”. Sewaktu aku masih berpacaran dengan Fian, aku dikenalkan dengan temannya yang bernama Angky. Aku yang waktu itu sempat menyukai olah raga sepak bola diajak untuk menonton pertandingan sepak bola, dan takku sangka bawha aku akan bertemu lagi dengan Angky. Seusai pertandingan aku berbincang-bincang dengan angky “Livi, fian mana??? Kok kamu gak nonton bareng dia she???” aku menjawab pertanyaan angky “aku sama dia udah putus sejak satu minggu yang lalu” “oh yea??? Kenapa?? Kaliankan baru pacaran.” “aku udah merasa gak cocok aja sama dia, makanya kita putus.”
     Awalnya aku dan angky hanya berniat untuk memanas-manasi fian dengan hubungan kita yang hanya berpura-pura, dan itu berhasil. Fian melihat sendiri aku jalan berdua dengan angky, rencana kami pun berjalan dengan mulus. Hingga satu hari kita berdua memutuskan untuk melanjutkan hubungan kami dan bukan hanya berpura-pura di depan fian atau siapa pun. Lima bulan perjalanan cinta kita, angky menghilang entah kemana, tidak ada kabar apapun darinya. Aku tak bisa berkata apa-apa. Kembali jomblo mungkin pilihan yang tepat untukku saat itu. “Liv, masih ingat sama Fian gak loe???” “Ingat, kenapa???” tanyaku. “dia pengen ketemu kamu lagi” “oh yea, masa she? Kapan kamu ketemu dia???” “kemaren waktu aku lagi di rumah temen kampusku”
Dengan alibih salah sambung aku menelpon Fian “hallo, tante maaf aku gak bisa kesana, soalnya di sini ujannya deras, jadi aku gak bisa keluar” “sorry ini syapa yea??? Aku bukan tante kamu” “loh ini nomernya tante mey bukan???” “bukan” aku langsung mematikan telponya dan tertawa terbahak-bahak. Fian mengirim pesan ke HPku, “ini sebenarnya syapa yea??? Kok bisa tau nomorku???” aku membalas pesannya “maaf aku salah sambung.” “masa she salah sambung????” “aku pun memberanikan diri mengatakan siapa aku. Dari situ kami berdua kembali akrab.
     Masa pacaran kami jalani lagi. 3 bulan masa pacaran aku masi merasa biasa saja, tetapi saat beberapa bulan kemudian saya merasa ada yang bedah, saya jatuh cinta pada Fian. Aku mengikuti aktifitasnya, agar bisa mengenal teman-temannya. Sebagai kakak Pembina Pramuka dan Fasilitator salah satu program di PMI, Fian cukup di kenal kususnya di kalangan anak SMA. Hari demi hari kita lewati, Fian lebih sering mengajakku untuk kerumahnya dan aku juga sering mengajak dia kerumahku. Orang tua kita sudah sama-sama mengetahui hubungan kami. Hari itu kami bertengkar, kami memang sering bertengkar tetapi selalu ada yang mengalah. Tapi kali ini berbedah, pertengkaran membuat hubungan kita harus berakhir. “Kamu tak pernah mau percaya padaku,apa yang aku lakukan selalu salah di matamu, aku sudah tidak tahan dengan semua ini, lebih baik kita putus, jalani hidup masing-masing”. Akhirnya aku menyesal memutuskan hubungan dengan Fian, tapi semua sudah terlambat, aku tidak bisa melakukan apa-apa sekarang.
     “Liv, kamu mau gak jadi anggota PRS??? Soalnya PMI ngadain program PRS, ada pelatihan soalnya, kamu mau gak???”. Aku tau fian adalah fasilitator di program ini, aku mengiakan ajakan Alen untuk ikut pelatihan PRS. Aku berharap aku bisa dekat lagi dengan fian, setidaknya kita bisa berteman. Tapi hanya kekecewaan yang ku dapat,fian tak pernah menganggapku ada, dimana ada aku, dia selalu menghindar, aku tahu aku salah waktu itu, tapi aku sekarang ingin memperbaiki hubunganku dengannya walau hanya sekedar teman. Di pelatihan tersebut aku bertemu dengan banyak teman baru yang dari berbagai kota di tempatku. “Wah gak terasa hari ini hari terakhir pelatihan yah, senang bisa punya teman baru dan pengetahuan baru seputar dunia kesehatan khususnya tetntang HIV/AIDS” kata seseorang pada kami. Pelatihan telah selesai dan saatnya kami pulang ke tempat kami masing-masing. Hingga suatu hari salah satu anggota PRS cabang kota lain menelponku, kami pun menjadi akrab, Brayen cowok yang ku kenal saat pelatihan menembakku, ingin berpacaran denganku, tapi saat itu aku masih galau, aku berpikir mungkin aku bisa memanas-manasi Fian dengan hubunganku yang baru ini. Tapi tetap tak ada respon dari fian, justru aku yang sakit hati ketika melihat dia berjalan dengan wanita lain. Hancur hatiku saat itu, aku tidak konsen dengan kuliaku lagi, saat ujian semester nilaiku sangat buruk, karena waktu itu pikiranku sangat kacau.
     “Vi, pamanmu yang dari Jakartakan ada di sini sekarang, gima kalau kamu ikut dia aja trus kerja di sana”. Ibuku menawarkanku untuk ikut bersama pamanku ke Jakarta, dia adalah salah satu anggota dewan di Jakarta, dia juga punya teman-teman yang bisa memberikanku pekerjaan. Aku menuruti ibuku untuk pergi ke Jakarta bersama pamanku, aku berharap dengan kepergianku nanti, aku bisa melupakan Fian. Aku aktif di organisasi pemudah gereja di Jakarta, aku bertemu denagn Mike, dia orang yang sangat baik. Satu ketika dia memintaku untuk menjadi pacarnya, aku mengiakan dia, tapi aku tidak ada perasaan apa-apa terhadapnya, hubungan kita hanya berjalan 1 minggu, aku memutuskan hubungan kita dengan alas an pamanku tidak mengijinkanku pacaran saat itu. Dia pun mengerti dan tidak mendesak aku untuk terus pacaran.
     Lewat jejaris social Facebook, aku berkenalan dengan seorang cowok bernama Defly, kita sering chating-chatingan, sms dan telpon-telponan. Semakin hari semakin akrab, karena kita berdua merasa cocok, kami mulai berpacaran. Aku tak tahu apa yang diinginkan hatiku saat itu, walaupun aku punya pacar, tapi aku tetap merasa hampa. Dengan alasan jarak kita yang jauh, aku memutuskan Defly “Def, sorry yea sebelumnya, tapi aku gak tahu kapan bisa balik kemanado, hubungan kita dipisahkan oleh jarak. Lebih baik kita menjalani kehidupan masing-masing saja yea”. Aku dan Defly akhirnya putus. Sekian lama aku menjomblo. Aku tak tahan dengan suasana kota Jakarta hingga aku memutuskan untuk pulang dan bekerja di tempatku. Dimanado aku mendapatkan pekerjaan dan bertemu dengan teman yang lama takku lihat. “Hallo vi, kamu sekarang kerja di manado yea??? Sejak kapan?? Kok gak ngabali aku she kalau kamu sudah di manado???” “Belum lama kok, maret kemaren aku balik dari Jakarta dan sekarang kerja di salah satu perusahaan di manado” “dimana??? Aku sekarang ada di manado” aku janjian bertemu dan pulang sama-sama dengan Joey. Jam pulang kantor pun tiba, aku segera bergegas keluar kantor karena sudah ada janji dengan Joey. “Hy, kamu sudah lama nunggu yea??? Sorry yea soalnya tadi ada urusan”. Dari situlah aku dan Joey mulai dekat, dia sudah sering mengantarkanku pulang. Dia menembakku, karena pada saat itu aku memang sedang tidak menjalin hubungan dengan siapa pun, aku mengiakan untuk jadi pacarnya. Perubahan yang tidak enakku temukan padanya, sehingga perjalanan cinta kami pun berakhir.
     Tak berapa lama aku sendiri aku dekat dengan teman kantorku yang bernama Marvin. Marvin dan aku pun berpacaran, walaupun sering bertengkar tapi kami masih bisa bertahan. Hubungan kami berlangsung lumayan lama. Tapi karena aku harus keluar kota aku memutuskan hubungan kita, “Vin, besok aku ke Surabaya, aku gak mau mengekang kamu, aku juga gak berharap kamu nungguin aku karena aku juga gak tahu kapan aku pulang, pasti kita akan punya masalah dan ujung-ujungnya kita juga gak bisa sama-sama, jadi mendingan kita break aja yea”. Aku berpikir karena keputusanku yang tiba-tiba itu, Marvian akan marah padaku dan tidak mau mengenalku lagi, tapi ternyata aku salah karena sampai sekarang aku masih sering berhubungan dengannya walaupun dia sudah mempunyai penggantiku. Tapi aku tidak mau dicap sebagai orang yang sombong sehingga sampai sekarang aku masih berhubungan baik dengan mantan-mantanku. Aku senang bisa berteman dengan mantan-mantanku. Terima kasih ku ucapkan kepada kalian yang tidak membenciku karena perbuatanku dulu. Aku senang bisa bertemu dengan kalin semua.








THE AND




Karya Livi Chiechy
Surabaya, 26 January 2012
Livilee21@yahoo.com {fb}
mellivikatiandagho@yahoo.co.id {twitter}
livilee21@yahoo.com & livi.love21@yahoo.com {email}

Selasa, 24 Januari 2012

Sesuatu Yang Telah Hilang

     Ada saatnya mendapatkan dan saatnya kehilangan. Aku baru sadar ternyata kehilangan sesuatu sangatlah menyakitkan, apalagi kehilangan orang yang kita cintai. Aku hanya bisa berpasrah ketika ku membaca undangan pernikahan darinya. Campur aduk pikiranku saat itu, akanku apakan undangan ini?? Haruskah aku datang di pernikahan itu????? Saat itu rasanya aku mau berteriak sekeras mungkin, tapi apakah dengan teriakanku dia bisa bersamaku lagi??? Tak mungkin karenaku tau hatinya bukan untukku lagi. Harapanku untuk bersamanya telah hilang. Aku hanya bisa menangis dan menyesali kesalahanku di masa lalu.”Ta kamu gak seharusnya seperti ini, kamu harus melanjutkan hidupmu, masih banyak hal-hal yang indah menunggumu ta, kamu gak seharusnya sedih seperti ini ta”, ditha memberikan semangat untukku, agar aku tidak terlalu larut dalam kesedihanku.”tapi apa yang harusku lakukan dith??? Aku gak sanggup dith”
     Hari pernikahannya pun sudah didepan mata, aku berniat untuk menghadirinya tetapi aku belum bisa menerima semua ini. Tapi aku harus merelakannya dengan pilihan hatinya sendiri, dia bukan jodohku,dan sekarang aku sadar, aku akan datang sebagai teman dan turut mendoakan agar dia dan keluarga barunya bahagia.”thita kamu dah siap lum??? Buruan, ntar kita telat lho”. Aku pun langsung bergegas keluar kamar ketikaku mendengar suara ditha. “ayo dith, aku dah siap kok”. Aku dan ditha langsung bergegas pergi ke pesta pernikahan Defly. Acaranya telah selesai dan saatnya aku dan ditha berjabatan tangan untuk menyalami defly,”Selamat yah def, ku doakan kamu bahagia dengan keluarga barumu sekarang”.
     Waktu terus berjalan dan aku telah menemukan seseorang yang berhasil melumpuhkan hatiku. Aku bahagia sekarang, akhirnya ada orang yang menyayangiku. Kami menjalani hari-hari dengan senyuman, jalan bersama, menghabiskan waktu berdua. Dia sangat perhatian padaku, dia sangat peduli padaku, apa yang ku inginkan selalu diturutinya. “Fi, aku berterima kasih banget sama kamu, selama ini kamu telah berhasil mengeluarkanku dari duka yang selama ini membelengguhku, kamu mampu mengembalikan senyumku, aku emang gak salah pilih, skali lagi makasih yea fi” “ia ta, aku juga mau berterima kasih sama kamu, kamu mau membuka hatimu buatku, kamu memang pantas untuk tersenyum dan merasakan bahagia”.
     Setahun sudah ku jalani hubungan dengan Rafi. Suka duka kami lewati bersama, senyum keidahan dia hadirkan untukku, aku pun bahagia menikmati hari dengannya. Hingga suatu hari Rafi memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di luar kota. Kami masih menjalani hubungan jarak jauh, hanya bisa berkomunikasi melalui telpon dan berbagai fiture internet. Hingga suatu saat ketika ku menelpon Rafi “hallo… ini syapa yea kok bisa tau nomornya Rafi???” seorang perempuan yang mengankat telponku aku mengajukan pertanyaan yang sama kepada cewe itu,”loh kamu yang siapa, kok bisa-bisanya kamu mengangkat telpon yang bukan punya kamu??? Rafi kemana??? Aku mau ngomong sama dia, mana Rafi???” Dengan nada tinggi cewe itu menjawab pertanyaanku,”loh kamu gak tahu yea, Rafi itu pacarku, makanya aku berani dan punya hak buat jawab telponnya, kamu yang siapa????” “pacar” setelah mengatakan satu kata itu aku langsung terdiam dan mematikan telponnya.
     Lagi-lagi aku tersakiti oleh cinta. Tuhan apakah aku memang tidak layak merasakan anugrah-Mu ini??? Apakah aku memang di takdirkan untuk seperti ini???? Disakiti dan akhirnya menyendiri??? Mengapa aku harus terluka lagi??? Belum puaskah Engkau menghukumku???? Apakah salahku selama ini??? Aku sudah mencintai orang-orang disekelilingku, aku sudah berusaha mencintai dengan sepenuh hati, kenapa aku harus merasakan penderitaan yang sama?? Kehilangan orang yangku cintai. Tak sanggupku jalani hidup seperti ini. Aku pun memutuskan untuk menutup rapat-rapat hatiku lagi, aku tak mau tertipu cinta palsu lelaki lagi. Sebaiknya aku sendiri, aku butuh ketenangan, aku butuh waktu yang lama untuk menenangkan diri aku memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang aku pun tidak mengenal orang-orang di sekelilingku. Aku menikmati hidupku disini, aku menemukan kebahagiaan lain bersama keluarga yang menampungku. Aku mengajarkan anak-anak di desa ini yang tidak mampu bersekolah, dari mereka, aku mendapatkan senyumku kembali, tapi kali ini senyuman ketulusan yang aku rasakan.
     Anak-anak di desa ini membuatku mengerti arti dicintai dengan ketulusan. Karena selama ini cinta yangku dapatkan adalah cinta yang semu,cinta yang penuh dengan kepura-puraan. Senyumanku telahku dapatkan. Aku memutuskan untuk kembali kerumahku dan bertemu dengan orang-orang yang selama ini ku tinggalkan. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mudah mempercayai kata-kata gombal yang keluar dari mulut seorang lelaki. Aku lebih berhati-hati dengan keputusanku, tetap menerima cowok, tapi tetap berhati-hati agar tidak mengulangi kesalahanku di masa lalu.
     Sekian lama ku jalani hidupku dengan kesendirian, sekarang saatnya aku mendapatkan orang yang benar-benar mencintaiku dengan tulus. Aku terus berdoa kepada Tuhan. Sampi suatu hari aku menemukan orang yang dengan tulus ingin menjalin hubungan denganku. Aku bertemu dengan cowok yang bernama Dithya. Dia anak baru di kampusku, tapi aku telah mengenalnay saat aku berada di desanya. “dithya kamu kok bisa ada di sini???” sapaku padanya. “Aku pindah kulia di sini biar bisa terus menjaga kamu, aku kan pernah janji sama kamu, kalau aku akan menjaga senyummu agar tidak di ambil orang lagi, sayang loh senyum secantik itu di ambil orang yang hanya pengen senang-senang saja” aku hanya bisa tersenyum malu mendengarkan kata-kata Dithya. Dithya akhirnya menyatakan cinta yang sudah lama ia pendam terhadapku. Aku dengan senang hati menerimanya karena aku tahu dan telah mengenal dia cukup lama. Dia terus-menerus membuatku tertawa dan tak mengijinkanku menangis. Terima kasih Dithya, sekali lagi ku ucapkan terima kasih untuk kasih dan sayang yang begitu tulus kau berikan kepadaku. Kini ku bisa hidup dengan penuh senyuman di wajahku. Dan aku yakin inilah orang yang benar-benar menyayangiku yang di berikan Tuhan padaku.






THE AND


Karya Livi Chiechy
Surabaya, 24 January 2012
Livilee21@yahoo.com {fb}
mellivikatiandagho@yahoo.co.id {twitter}
livilee21@yahoo.com & livi.love21@yahoo.com {email}

Senin, 23 Januari 2012

Janji Tuhan adalah Ya dan Amin


“Ku tak akan menyerah pada apapun juga sebelumku coba apapun yang ku bisa,tetapiku berserah kepada kehendak-Mu hatiku percaya Tuhan punya rencana”.
Penggalan lagu diatas menggambarkan bahwa Tuhan tidak pernah merancangkan rencana yang jahat kepada umat-Nya yang taat kepada-Nya. Selalu ada upah kepada para pekerja,selalu ada jalan untuk mencapai kesuksesan, dan sesalu ada pengharapan didalam Tuhan. Ada kesedihan dan ada juga kebahagiaan,ada pula masa dimana kita benar-benar dihadapkan dalam suatu keadaan yang sulit,entah itu dalam keluarga,pekerjaan,dan didalam kehidupan pribadi kita sendiri. Kita tidak tahu kapan semua itu terjadi dan kapan semua itu berakhir,tetapi ingatlah “Kristus adalah Ya bagi semua janji ALLAH. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan Amin untuk memuliakan ALLAH” (2 Kor !:20).
Bacaan alkitab ini ingin mengajak kita untuk tidak menyerah pada apapun sebelum kita mencoba, tentunya dalam suatu pekerjaan-pekerjaan atau hal-hal yang berhubungan dengan persekutuan dan pelayanan didalam lading Kristus. Kita sering mendapati anak-anak ALLAH yang menyerah karena kehilangan pekerjaan,sudah mencari pekerjaan tapi belum juga mendapatkan. Disitu kita melihat orang yang bersungut-sungut,bahkan ada yang mengatakan TUHAN itu tidak adil.
Tetapi sesungguhnya ALLAH mengajarkan kita untuk tetap sabar dan menaru harapan pada-Nya. Tak ada hal yang mustahil bagi-Nya. Kalau kita sungguh-sungguh yakin dan percaya kepada-Nya dan tidak sekali-kali berpaling dari Dia dengan berbagai macam alas an,karena Kristus adalah Ya dan Amin. Percayalah kepada-Nya dan patuhi segalah perintah-Nya dan yakinlah Dia selalu ada,bersama-sama dengan kita tanpa kita ketahui. Janganlah kamu kuatis akan hari esok,karenah Tuhan pasti punya rencana yang indah untuk kita nikmati dan kita syukuri.
Kasih karunia menyertai semua orang,yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa.



Karya Livi Chiechy
Surabaya, 23 January  2012

Kamis, 19 Januari 2012

Surat Untuk Ibu

“Terima kasih Tuhan untuk kebaikan-Mu selama ini. Kini ku bisa membahagiakan ibu dan adik-adikku dan bisa menjadi seorang istri yang baik buat suamiku, sekali lagi ku bersujud dan berterima kasih untuk kemurahan_Mu Tuhan”

Terlahir dari sebuah keluarga sederhana membuatku harus meninggalkan kampung halamanku, termasuk seorang Ibu dan adik-adikku. Kematian ayah membuatku menjadi tulang punggung keluarga. Ibuku hanya seorang penjual gorengan keliling, sementara aku punya 3 orang adik yang masih kecil-kecil. Dengan penghasilan ibu yang tidak seberapa, sehingga adik-adikku harus ikut bekerja membantu ibu mencari sesuap nasi. Suatu hari Delia teman sekampungku yang bekerja di Jakarta pulang ke kampung untuk menghadiri pesta pernikahan kakaknya Daniel. Delia adalah salah satu orang yang sukses dalam perantauannya. Selain untuk menghadiri pesta pernikahan kakaknya, ia juga bermaksud mencariku untuk dibawanya ke Jakarta.
“Vila……..vi…..vila……” aku segera bergegas keluar ketikaku mendengar ada seseorang memanggil namaku di luar. “Delia,,,,kok bisa ada di sini???? Bukannya kamu ada di Jakarta yea??? Tanyaku. “Daniel kakakku kan akan menikah, jadi aku di minta untuk pulang”. Setelah lama bercakap-cakap dengan delia dia pun menawarkan ku untuk ikut dengannya nanti. Aku memberi tahu ibuku, namun ibu masih ragu dengan ajakan delia padaku katanya “nak, Jakarta itu keras, ibu takut terjadi sesuatu yang gak ibu inginkan terjadi sama kamu nak, kamu adalah anak gadis ibu satu-satunya nak, bapakmu di surga juga pasti tidak akan setujuh”. Apa yang harus ku lakukan??? Aku hanya bisa diam tertunduk dengan jawaban ibu, tapi aku mau membantu ibu, aku mau adik-adikku agar bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Aku pun kembali membujuk ibu dengan kemampuan yang aku bisa. “Bu, aku ingin Bantu ibu, aku ingin Bantu adik-adik juga, biar mereka bisa mendapatkan pendidikkan yang layak, bu aku mohon bu… aku pasti bisa jaga diri dan bisa menjadi sukses sama seperti delia bu”. “sekali ibu bilang TIDAK tetap TIDAK nak!!!!!!!!!” . Dengan wajah kesal ibu pergi meninggalkan ku. Setelah seminggu berlalu delia datang lagi ke rumahku. “Vi…..vila,…ini aku delia vi…” aku membukakan pintu untuk delia. “hy gimana vi, kamu mau ikut aku ke-Jakarta??? Kamu sudah kasih tahu ibumu kan??? Jadi gimana vi????”. Aku hanya terdiam sambil menundukan kepalaku, “hello vi…. Jadi gimana kamu mau ikut sama aku???. Aku menggeleng kepala dan menjawab pertanyaan Delia dengan liri “ibu gak mengizinkan ku ikut kamu del, dia takut terjadi sesuatu denganku disana nanti”. “wah, padahal ini kesempatan bagus buat kamu vi, kalau kamu ikut aku, kamu kan bisa membantu ibu kamu, kamu kesana kan buat kerja yang halal bukan untuk berfoya-foya atau melakukan hal-hal yang gak baik”. Delia kembali mendorongku untuk membujuk ibu lagi, “bu, aku ingin sekali membantu ibu dan adik-adik, aku mohon ibu izinkan aku untuk ikut delia bu” ku berlutut memohon agar ibu mengizinkan aku ikut delia, “bu, villa mohon sama ibu, villa janji tidak akan melakukan perbuatan kotor di sana nanti bu, villa mohon bu,.. villa mohon” memohon sambil mengeluarkan airmata. Ibu pun tak tahan melihatku menangis sampai akhirnya ibu menyuruhku berdiri dan berkata “baiklah kalu itu memang mau kamu nak, ibu tidak akan menghalangi lagi, tapi ibu ingin kamu berjanji 1 hal pada ibu” “apa bu???”. Dengan wajah yang senang aku bertanya dan memotong pembicaraan ibu. “kamu harus janji, kalau kamu harus mencari pekerjaan yang halal dan layak buat kamu disana nak”. Kata ibu padaku. Aku pun mengiakan dan berjanji pada ibu kalau aku pasti busa mendapatkan pekerjaan yang layak dan halal di sana nanti.
Tiba saatnya aku bersama delia berangkat ke-Jakarta. Ibu mengantarku ke terminal untuk berangkat ke-Jakarta. “Nak kamu hati-hati yah di sana, jaga dirimu baik-baik nak”. “ia bu, villa pasti bisa jaga diri disana, ibu tenang aja, nanti kalau villa sudah bekerja dan mendapat uang, villa pasti kirimin ibu, ibu juga jaga kesehatan yea, jangan sampai sakit”.
Dua (2) tahun berlalu, aku sudah bisa menghidupkan keluargaku, adik-adikku bisa menikmati pendidikan di sekolah berkwalitas di kampungku. Aku bisa memberikan tempat tinggal yang layak buat ibu dan adik-adikku, karena sebelumnya keluargaku tinggal di rumah kontrakan yang lebih mirip gudang. Bahkan aku berencana untuk mengajak ibu dan adik-adik berlibur di tempatku. Ini surat kesekian buat ibuku, “Bu, bagaimana kabar ibu sama adik-adik???? Aku harap baik-baik saja bu, bu aku berencana mengajak ibu dan adik-adik berlibur ke tempatku. Ibu mau kan??? Nanti aku jemput ibu di terminal, aku kangen sama ibu dan adik-adik. Aku berharap ibu mau datang menengokku di sini, aku akan sangat senang apabila ibu mau datang. Kapan pun ibu dan adik-adik akan datang, aku pasti jemput ibu di terminal. Aku sayang sama ibu, aku juga kangen sama ibu. Salam hangat anakmu. Villa”. Aku pun mendapat respon yang baik dari ibu, ibu membalas suratku dan ingin sekali menengokku disini.
Sepulangku dari kantor aku langsung ke terminal untuk menjemput ibu dan adik-adikku. Setelah melihat ibu, aku langsung memeluknya dan berkata “Ibu, aku kangen banget sama ibu”. Setelah sekian lama akhirnya aku bertemu dengan keluargaku, hari itu aku sangat gembira bisa bersama-sama keluargaku lagi, walau pun ayah telah tiada, tapi aku senang bisah menghidupkan keluargaku. Setelah sampai di rumah aku bersujud dan berdoa mengucap syukur kepada Tuhan, karena begitu besar cinta dan kebaikan-Nya kurasakan dalam hidupku.
Aku mengajak ibu dan adik-adikku untuk tinggal bersamaku, agar kami bisa berkumpul bersama-sama seperti dulu lagi. Tak habis-habisnya aku mengucap syukur pada Tuhan karena lagi-lagi Tuhan memberikan apa yang selama ini aku harapkan. Yah aku bertemu dengan seorang pria yang sangat baik terhadapku dan keluargaku. Kami berniat untuk mengikat tali cinta kami kedalam ikatan janji suci yaitu Pernikahan. Aku di lamar oleh Radith dan keluargaku menyaksikannya. “Nak ibu bahagia bisa melihatmu mendapatkan pasangan hidup seperti Nak Radith, ibu berharap kalian berdua bisa segerah menikah dan memberikan ibu seorang cucu” sambil tersenyum ku berkata pada ibu, “terima kasih bu, Villa pasti akan memberikan ibu cucu dan akaan menjadi pendamping hidup yang tepat buat Radith, ibu juga doakan biar hari pernikahan kita nanti berlangsung dengan baik yea bu”.
Hari pernikahan pun sudah di depan mata, aku kembali bersujud melayangkan doa kepada Tuhan seraya mengucapkan terima kasih atas semua yang telah Dia berikan kepadaku dan keluargaku. “Radithia Kurniawan apakah kamu bersedia mendampingi Villa Darmawan dalam susa maupun senang, dalam suka maupun duka?? Berjanjikah kamu membinah rumah tangga yang abadi dalam Tuhan???”. Itulah pertanyaan yang di lontarkan Pendeta kepata Radith. “Yah, saya bersedia dan berjanji dengan segenap hati. Amin”, jawab Radith dengan penuh keyakinan dan pertanyaan yang sama yang Pendeta lontarkan terhadapku.
Kami pun telah menjadi sepasang suami-istri yang berbakti kedapa Tuhan, sehingga pa yang kami inginkan selalu dikabulkan oleh Tuhan.
Aku boleh melahirkan seorang putri yang cantik yang wajahnya mirip sekali dengan ibuku.
“Terima kasih Tuhan untuk kebaikan-Mu selama ini. Kini ku bisa membahagiakan ibu dan adik-adikku dan bisa menjadi seorang istri yang baik buat suamiku, sekali lagi ku bersujud dan berterima kasih untuk kemurahan_Mu Tuhan”.



THE AND




Karya Livi Chiechy
Surabaya, 19 January 2012
Livilee21@yahoo.com {fb}
mellivikatiandagho@yahoo.co.id {twitter}
livilee21@yahoo.com {email}

Rabu, 18 Januari 2012

Cerita Cinta

“Hal yang terindah yang pernah ada dalam hidupku yaitu saat duduk dengan mu di café tempat pertemuan kita pertama kali, melihat senyummu hatiku terasa damai dan seakan menolak untuk pergi dari dunia ini, pintaku hanya ingin bersamamu, melewati hari tanpa memikirkan yang lain”.


Berawal dari perkenalan yang tak mengenakkan, namun hal yang tak mengenakkan itu bisa sekejap berubah menjadi sebuah awal dimana aku bisa merasakan jatuh cinta. “Emang loh siapa berani ngatur-ngatur hidup gw!!” Kata-kata itu terlintas di benak qu ketika sedang duduk-duduk di taman kampus qu. “Mell nie ada undangan rapat buat ntar sore, awas loh jangan sampe gak datang, soalnya rapat kali ini nge-bahas tentang agenda tahunan BEM”

Yah, aku adalah salah satu pengurus BEM di kampus ini, Mentri HuMas adalah jabatan yang aku jabat di salah satu Organisasi kampus ini yaitu di BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Semenjak terpilih sebagai mentri selain sibuk kulia, aku juga di sibukan dengan tanggung jawabku sebagai pengurus di organisasi yang aku ikuti. Banyak Program yang sudah kami planning-kan, salah satunya yaitu seminar tentang ”Bahaya & Akibat HIV/AIDS” Sebagai ketua panitia aku wajib menghadiri rapat itu.
Sebagai seorang ketua sudah seharusnya datang lebih awal, agar bisa menjadi contoh yang baik bagi para junior dan anggota rapat, tapi karena ada kelas tambahan jadi rapat di mulai tanpa aku. “Sore, maaf aku terlambat” kataqu menyapah peserta rapat. “Udah dari tadi yea??” bisikan qu pada Tata teman sekaligus ketua BEM kampus. “Baru koq, soalnya anak-anak yang lain juga ada kelas tambahan, nie baru mau masuk sesi perkenalan KSB & anggota panitia pelaksana.
“Syalom, selamat sore, kita akan memulaikan rapat kita hari ini, tapi sebelumnya aku atas nama ketua panitia meminta maaf kepada teman-teman sekalian karena keterlambatan rapat hari ini” sapaku kepada peserta rapat. Setelah panjang lebar aku berbicara, menyampaikan maksud dan tujuan rapat, aku pun menutup rapat sore itu “Terima kasih & saya tutup rapat qt hari ini”. Rapat selesai dan waktunya aku pulang.
Hari berganti hari pelaksanaan sudah semakin dekat, persiapan juga semakin matang. “Mell, gimana pembicaranya?sudah kamu hubungi belum??” Tanya Tyas kepadaku. “kemarin aku sudah ke VCT yang deket rumah qu, aku di suru ketemu langsung sama Fian, dia yang akan menjadi pembicaranya dalam seminar kita nanti” tawab ku. “trus kamu kapan ketemu sama dia?? Hari H-nya sudah hampir tiba” kata Tyas. “yea udah aku telpon dy sekarang” aku mengambil HP di tas dan segerah menelpon Fian. Kita janjian ketemu di sebuah café di dekat kampus qu. “Astaga!!! Sontakku kaget melihat sosok wajah itu dan dalam hati qu berkata “dia kan cowok yang selama ini aku cari-cari, koq bisa ada di sini???” Fian menghampiriku dan bertanya “kamu Mellinda yea???? Dengan nada gugup aku menjawab “Ia” “aku Fian, kita bicara di sana”. ternyata cowok yang selama ini aku kagumin akan menjadi pembicara di seminar nanti. Fian memulai pembicaraan singkat kami. Setelah mendapat kata Deal dari fian, aku pun langsung beranjak pergi, karena masih ada urusan lain yang harus aku selesaikan. Dalam perjalanan aku hanya bisa mengoceh sendiri “huuuuuu kalau bukan coz aku ada urusan lain yang sangan terdesak, mungkin aku bisa bercerita panjang lebar lagi sama dia, tapi haaaa senangnya aku bisa ketemu lagi sama cowok yang ku kagumi selama ini dan dy akan menjadi pembicara dalam seminar nanti, haaaaa senangnya hati qu ”. Tit……tiit……tiiitt…..tiiiiiiiittt……… Bunyi klakson mobil di belakang ku. “Woooyyy mba jangan bengong dong kalo lagi nyetir” Teriakan supir angkot yang mendahului mobil ku.
Beberapa bulan kemudian....
Hari H pun tiba, semua Mahasiswa/I di kumpulkan di Aula kampus. Dan aku pun mulai mempersiapkan diri, karena harus memberikan kata-kata sambutan sebagai ketua pelaksana. Saat aku berdiri menyampaikan kata-kata sambutan di atas panggung, mataku langsung tertuju di pintu masuk Aula, Nampaklah sesosok pria pujaan ku. Aku terdiam di tengah pembicaraan ku, Ku ikuti dia sampai ia duduk. “Mell……mell…..mell……” Sontak aku terkejut mendengar suara dari bawa panggung, aku tersadar dan menjadi malu dan langsung menutup kata-kata sambutan yang pagi itu aku sampaikan dihadapan para dosen dan teman-teman Mahasiswa/I.”Sekali lagi saya ucapkan selamat datang dan selamat mengikuti acara selanjutnya, terima kasih dan selamat pagi” . Aku menjadi malu dan langsung buru-buru turun dari atas panggung. (berlari kearah toilet) "Adu malu banget nie aku, gara-gara liatin Fian mulut ku kayak di bekap. Haaaaaaa………………….. apa-apain she aku ini???"
Setelah berkaca di cermin di toilet kampus, aku pun kembali ke aula.
“Sekarang kita akan sama-sama tau apa itu HIV dan apa itu AIDS, kita sambut Pembicara kita pada pagi hari ini, bapak Fian, bapak Fian saya undang untuk mengambil posisi di atas panggung. Kepada bapak waktu dan tempat kami persillahkan” Aku pun dengan seksama mendengarkan Fian berbicara di atas panggung. Panjang-lebar pembicaraan Fian di atas panggung dan dia pun menutup penjelasannya dengan “baiklah saya berikan kesempata bagi anda-anda yang ingin bertanya seputar topic kita pagi hari ini”. Terjadi interaksi yang sangat baik antara Fian dan teman-teman mahasiswa. Jam dinding pun terus berputar, tak terasa waktu sudah siang. Fian pun menutup pembicaraannya. Dan Fenny (MC) mengambil alih acara dan masuk ke acara berikutnya. Mataku tak bernah jauh memandang Fian. Aku pun mendekatinya dan berkata “thank’s yea untuk waktunya” Fian tersenyum dan berkata “sama-sama”. Di situ kami pun mulai akrab, aku sering di ajak jalan-jalan. Hingga suatu ketika dia meminta ku untuk jadi pacarnya . Kami pun menjalani hubungan ini dengan serius. Orang tua kami sudah seperti keluarga besar. Fian berjanji bahwa dy akan melamar ku setelah ku wisuda tahun depan.
“Mell, aku mau kamu tau kalau aku betul-betul sayang sama kamu, kamu jangan kecewain aku yea, aku mau kamu janji satu hal sama aku, aku kan sudah buat kamu bahagia, aku juga ingin kamu buat aku bahagia agar kamu bahagia, dan ingat Tak ada yang abadi di dunia ini dan aku sangat senang bisa mengenal kamu”. Aku pun berjanji membuat Fian bahagia dan mau melakukan apa saja asalkan dia bisa bahagia. Suatu hari, saat aku baru pulang kampus aku mendapatkan berita dari orang tua Fian bahwa fian masuk rumah sakit. Aku langsung bergegas menujuh rumah sakit di man fian di rawat. Aku melihat tubuh yang kaku dan tak bergerak sama sekali. “Sebenarnya Fian punya penyakit yang selama ini dia sembunyikan sama semua orang, termasuk sama tante.” kata ibunda fian pada ku membuka kesunyian di kamar fian.
Aku pun terdiam, tetes demi tetes airmata jatuh membasahi pipiku. Apa yang harus ku lakukan???, yang aku tau hanyalah kalau aku sangat menyayangi dia dan tak pernah membayangkan kehilangan dia. Supucuk surat di keluarkan tante dari tasnya “tante menemukan ini di kamar Fian” tante menyodorkan sehelai kertas kepadaku.
“Hal yang terindah yang pernah ada dalam hidupku yaitu saat duduk dengan mu di café tempat pertemuan kita pertama kali, melihat senyummu hatiku terasa damai dan seakan menolak untuk pergi dari dunia ini, pintaku hanya ingin bersamamu, melewati hari tanpa memikirkan yang lain”.
Sepenggal kalimat ini membuatku merasa sangat sedih, dan lagi-lagi aku tak dapat menahan airmataku. Hari-hari bersamanya terlalu singkat ku rasakan, aku ingin terus bersamanya, tapi Tuhan berkata lain. Tuhan lebih menyayanginya. Sekarang Fian pergi meninggalkan ku untuk selamanya. Kata-katanya selalu terbayang-bayang di benakku “Tak ada yang abadi di dunia ini dan aku sangat senang bisa mengenal kamu”. Aku baru sadar kenapa dia bisa berkata seperti itu kepadaku, itu karena dia tahu bahwa hidupnya sudah tak lama lagi. Dan mulai sekarang aku harus menyudahi kesedihanku, cz aku sudah berjanji padanya bahwa aku akan membahagiakan dia dengan mengiklaskan kepergiannya untuk selamanya dan kini ku siap untuk menjalani hidupku lagi.



THE AND






Karya Livi Chiechy
Surabaya, 18 January 2012
Livilee21@yahoo.com {fb}
mellivikatiandagho@yahoo.co.id {twitter}
livilee21@yahoo.com {email}