“Terima kasih Tuhan untuk kebaikan-Mu selama ini. Kini ku bisa membahagiakan ibu dan adik-adikku dan bisa menjadi seorang istri yang baik buat suamiku, sekali lagi ku bersujud dan berterima kasih untuk kemurahan_Mu Tuhan”
Terlahir dari sebuah keluarga sederhana membuatku harus meninggalkan kampung halamanku, termasuk seorang Ibu dan adik-adikku. Kematian ayah membuatku menjadi tulang punggung keluarga. Ibuku hanya seorang penjual gorengan keliling, sementara aku punya 3 orang adik yang masih kecil-kecil. Dengan penghasilan ibu yang tidak seberapa, sehingga adik-adikku harus ikut bekerja membantu ibu mencari sesuap nasi. Suatu hari Delia teman sekampungku yang bekerja di Jakarta pulang ke kampung untuk menghadiri pesta pernikahan kakaknya Daniel. Delia adalah salah satu orang yang sukses dalam perantauannya. Selain untuk menghadiri pesta pernikahan kakaknya, ia juga bermaksud mencariku untuk dibawanya ke Jakarta.
“Vila……..vi…..vila……” aku segera bergegas keluar ketikaku mendengar ada seseorang memanggil namaku di luar. “Delia,,,,kok bisa ada di sini???? Bukannya kamu ada di Jakarta yea??? Tanyaku. “Daniel kakakku kan akan menikah, jadi aku di minta untuk pulang”. Setelah lama bercakap-cakap dengan delia dia pun menawarkan ku untuk ikut dengannya nanti. Aku memberi tahu ibuku, namun ibu masih ragu dengan ajakan delia padaku katanya “nak, Jakarta itu keras, ibu takut terjadi sesuatu yang gak ibu inginkan terjadi sama kamu nak, kamu adalah anak gadis ibu satu-satunya nak, bapakmu di surga juga pasti tidak akan setujuh”. Apa yang harus ku lakukan??? Aku hanya bisa diam tertunduk dengan jawaban ibu, tapi aku mau membantu ibu, aku mau adik-adikku agar bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Aku pun kembali membujuk ibu dengan kemampuan yang aku bisa. “Bu, aku ingin Bantu ibu, aku ingin Bantu adik-adik juga, biar mereka bisa mendapatkan pendidikkan yang layak, bu aku mohon bu… aku pasti bisa jaga diri dan bisa menjadi sukses sama seperti delia bu”. “sekali ibu bilang TIDAK tetap TIDAK nak!!!!!!!!!” . Dengan wajah kesal ibu pergi meninggalkan ku. Setelah seminggu berlalu delia datang lagi ke rumahku. “Vi…..vila,…ini aku delia vi…” aku membukakan pintu untuk delia. “hy gimana vi, kamu mau ikut aku ke-Jakarta??? Kamu sudah kasih tahu ibumu kan??? Jadi gimana vi????”. Aku hanya terdiam sambil menundukan kepalaku, “hello vi…. Jadi gimana kamu mau ikut sama aku???. Aku menggeleng kepala dan menjawab pertanyaan Delia dengan liri “ibu gak mengizinkan ku ikut kamu del, dia takut terjadi sesuatu denganku disana nanti”. “wah, padahal ini kesempatan bagus buat kamu vi, kalau kamu ikut aku, kamu kan bisa membantu ibu kamu, kamu kesana kan buat kerja yang halal bukan untuk berfoya-foya atau melakukan hal-hal yang gak baik”. Delia kembali mendorongku untuk membujuk ibu lagi, “bu, aku ingin sekali membantu ibu dan adik-adik, aku mohon ibu izinkan aku untuk ikut delia bu” ku berlutut memohon agar ibu mengizinkan aku ikut delia, “bu, villa mohon sama ibu, villa janji tidak akan melakukan perbuatan kotor di sana nanti bu, villa mohon bu,.. villa mohon” memohon sambil mengeluarkan airmata. Ibu pun tak tahan melihatku menangis sampai akhirnya ibu menyuruhku berdiri dan berkata “baiklah kalu itu memang mau kamu nak, ibu tidak akan menghalangi lagi, tapi ibu ingin kamu berjanji 1 hal pada ibu” “apa bu???”. Dengan wajah yang senang aku bertanya dan memotong pembicaraan ibu. “kamu harus janji, kalau kamu harus mencari pekerjaan yang halal dan layak buat kamu disana nak”. Kata ibu padaku. Aku pun mengiakan dan berjanji pada ibu kalau aku pasti busa mendapatkan pekerjaan yang layak dan halal di sana nanti.
Tiba saatnya aku bersama delia berangkat ke-Jakarta. Ibu mengantarku ke terminal untuk berangkat ke-Jakarta. “Nak kamu hati-hati yah di sana, jaga dirimu baik-baik nak”. “ia bu, villa pasti bisa jaga diri disana, ibu tenang aja, nanti kalau villa sudah bekerja dan mendapat uang, villa pasti kirimin ibu, ibu juga jaga kesehatan yea, jangan sampai sakit”.
Dua (2) tahun berlalu, aku sudah bisa menghidupkan keluargaku, adik-adikku bisa menikmati pendidikan di sekolah berkwalitas di kampungku. Aku bisa memberikan tempat tinggal yang layak buat ibu dan adik-adikku, karena sebelumnya keluargaku tinggal di rumah kontrakan yang lebih mirip gudang. Bahkan aku berencana untuk mengajak ibu dan adik-adik berlibur di tempatku. Ini surat kesekian buat ibuku, “Bu, bagaimana kabar ibu sama adik-adik???? Aku harap baik-baik saja bu, bu aku berencana mengajak ibu dan adik-adik berlibur ke tempatku. Ibu mau kan??? Nanti aku jemput ibu di terminal, aku kangen sama ibu dan adik-adik. Aku berharap ibu mau datang menengokku di sini, aku akan sangat senang apabila ibu mau datang. Kapan pun ibu dan adik-adik akan datang, aku pasti jemput ibu di terminal. Aku sayang sama ibu, aku juga kangen sama ibu. Salam hangat anakmu. Villa”. Aku pun mendapat respon yang baik dari ibu, ibu membalas suratku dan ingin sekali menengokku disini.
Sepulangku dari kantor aku langsung ke terminal untuk menjemput ibu dan adik-adikku. Setelah melihat ibu, aku langsung memeluknya dan berkata “Ibu, aku kangen banget sama ibu”. Setelah sekian lama akhirnya aku bertemu dengan keluargaku, hari itu aku sangat gembira bisa bersama-sama keluargaku lagi, walau pun ayah telah tiada, tapi aku senang bisah menghidupkan keluargaku. Setelah sampai di rumah aku bersujud dan berdoa mengucap syukur kepada Tuhan, karena begitu besar cinta dan kebaikan-Nya kurasakan dalam hidupku.
Aku mengajak ibu dan adik-adikku untuk tinggal bersamaku, agar kami bisa berkumpul bersama-sama seperti dulu lagi. Tak habis-habisnya aku mengucap syukur pada Tuhan karena lagi-lagi Tuhan memberikan apa yang selama ini aku harapkan. Yah aku bertemu dengan seorang pria yang sangat baik terhadapku dan keluargaku. Kami berniat untuk mengikat tali cinta kami kedalam ikatan janji suci yaitu Pernikahan. Aku di lamar oleh Radith dan keluargaku menyaksikannya. “Nak ibu bahagia bisa melihatmu mendapatkan pasangan hidup seperti Nak Radith, ibu berharap kalian berdua bisa segerah menikah dan memberikan ibu seorang cucu” sambil tersenyum ku berkata pada ibu, “terima kasih bu, Villa pasti akan memberikan ibu cucu dan akaan menjadi pendamping hidup yang tepat buat Radith, ibu juga doakan biar hari pernikahan kita nanti berlangsung dengan baik yea bu”.
Hari pernikahan pun sudah di depan mata, aku kembali bersujud melayangkan doa kepada Tuhan seraya mengucapkan terima kasih atas semua yang telah Dia berikan kepadaku dan keluargaku. “Radithia Kurniawan apakah kamu bersedia mendampingi Villa Darmawan dalam susa maupun senang, dalam suka maupun duka?? Berjanjikah kamu membinah rumah tangga yang abadi dalam Tuhan???”. Itulah pertanyaan yang di lontarkan Pendeta kepata Radith. “Yah, saya bersedia dan berjanji dengan segenap hati. Amin”, jawab Radith dengan penuh keyakinan dan pertanyaan yang sama yang Pendeta lontarkan terhadapku.
Kami pun telah menjadi sepasang suami-istri yang berbakti kedapa Tuhan, sehingga pa yang kami inginkan selalu dikabulkan oleh Tuhan.
Aku boleh melahirkan seorang putri yang cantik yang wajahnya mirip sekali dengan ibuku.
“Terima kasih Tuhan untuk kebaikan-Mu selama ini. Kini ku bisa membahagiakan ibu dan adik-adikku dan bisa menjadi seorang istri yang baik buat suamiku, sekali lagi ku bersujud dan berterima kasih untuk kemurahan_Mu Tuhan”.
THE AND
Karya Livi Chiechy
Surabaya, 19 January 2012
Livilee21@yahoo.com {fb}
mellivikatiandagho@yahoo.co.id {twitter}
livilee21@yahoo.com {email}
setelah di baca,,,
BalasHapusmohon commentnya yea,,,,
biar bisa lebih baik lagi...
Thkz.....